KEKUATAN CINTA DI WISUDA PAUD
Akhir tahun ajaran, dan semua
Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yaitu lembaga KB, TK, TPA, RA, SPS merayakan dengan caranya
masing-masing, sebagai rasa syukur dan apresiasi kepada wali murid, anak
didik yang akan melanjutkan
pendidikannya ke jenjang SD, maupun anak didik yang masih melanjutkan di
Lembaga PAUD tersebut. Judul dari kegiatanpun beragam, ada yang menyebut
“Pelepasan”, “Perpisahan” , “Penamatan”, “Serah Terima Anak Didik” maupun
“Wisuda dan Pentas Seni”. Kegiatan biasanya diisi penampilan dari semua anak
didik, bisa berupa nyanyian, baca puisi, tarian, gerak lagu, drama, dan
lainnya. Beberapa diantaranya ada diselipi “prosesi wisuda”. Yaitu memberikan selamat kepada anak-anak yang siap
masuk ke SD, dengan dipanggil satu persatu ke depan, dimana anak memakai baju
toga.
Tentu saja, untuk menyelenggarakan
seremonial rutin akhir tahun tersebut, harus sudah dipersiapkan dan
diperhitungkan sejak awal tahun ajaran sebelumnya. Sudah melewati rapat komite,
dan persetujuan dari wali murid, mengenai biaya, tempat, susunan acara, dan apa
saja yang diperoleh anak dari acara tersebut. Beberapa memilih hotel atau
tempat pertemuan, sebagai tempat acara, apabila sekolah tidak mempunyai aula,
karena faktor kemudahan prasarana acara, misalnya panggung, sound system,
kursi, dan lain-lain, dan juga faktor kenyamanan.
Banyak “pro dan kontra” mengenai
“prosesi wisuda” anak PAUD ini. Yang kontra biasanya karena memandang “wisuda”
adalah sesuatu yang sakral dan penuh filosofi. Juga dianggap “eksploitasi” pada
anak. Padahal kenyataannya, justru ada sisi-sisi “kekuatan cinta” pada saat
prosesi wisuda tersebut.
Setiap jenjang pendidikan melalui
prosesnya masing-masing, dan setiap proses itu tidaklah mudah. “Prosesi wisuda”
adalah penghargaan kepada anak yang telah melalui masa golden age yang hanya sekali dalam hidupnya, yang bersiap berproses
ke jenjang pendidikan selanjutnya. Ada
kekuatan cinta dalam prosesi tersebut. Karena cinta orang tua dan gurulah, maka
proses perkembangan anak menjadi optimal, itulah yang patut diapresiasi.
Pencapaian itulah yang harus disaksikan orang tua.
Di saat anak memakai baju toga,
tampak anak merasa bahagia, karena mereka siap melanjutkan pendidikannya ke SD.
Dan bagi orang tua, kenangan itulah yang diabadikan. Bahwa anak mereka telah
melewati satu tahap dalam pendidikan mereka. Wajah-wajah penuh cinta, yang bisa dikenang
sepanjang masa. Baju toga juga hanya dipakai di awal acara, setelah “prosesi
wisuda” mereka berganti kostum, sesuai peran mereka di Acara Pentas Seni
tersebut. Ada yang menyanyi, menari,
gerak dan lagu, baca puisi, drama, maupun memainkan alat musik. Selama anak
tidak merasa terpaksa, acaranya seru,
dan menarik, maka anak akan bergembira sampai akhir kegiatan.
Walaupun banyak pro dan kontra
mengenai “prosesi wisuda” tersebut. Namun, bisa disaksikan, di jaman media
sosial ini, tampak semua wali murid merasa sangat bahagia, terlihat dari
posting foto acara akhir tahun tersebut memenuhi dinding media sosial.
Memandang kegiatan “Wisuda dan
Pentas Seni” dari sudut yang positif, maka banyak makna yang bisa didapatkan. Nuansa
dan ikatan “kasih sayang dan cinta” antara wali murid, pihak sekolah dan
kenangan manis anak-anak, akan terus dibawa kemanapun mereka pergi. Keindahan kekuatan
cinta di sekolah.

Komentar
Posting Komentar