PAUD DI PENGUNGSIAN DAERAH BENCANA




Di berbagai daerah di Tanah Air,  banyak sekali terjadi bencana di awal tahun ini. Beberapa bencana alam yang berdampak besar adalah gempa, tsunami, longsor dan banjir dan lain-lain. Hal ini mengakibatkan  banyaknya warga daerah bencana yang terpaksa  harus mengungsi dalam waktu yang cukup lama. 
Melihat kondisi tersebut, memang sangat memprihatinkan. Para pengungsi terpaksa harus tinggal di barak-barak pengungsian atau  di bawah tenda-tenda darurat bantuan dari relawan atau pemerintah.
Bagi anak  yang belum bersekolah khususnya anak usia dini, tinggal di tenda darurat atau barak pengungsian sungguh tidak nyaman. Karena selain lingkungannya yang tidak bersih, semrawut, tempat bermain dan alat permainan yang dimilikinya pun sudah hilang, tidak tahu lagi  keberadaannya. Sementara mereka  tetap berhak untuk  bergembira dan memperoleh pembinaan yang layak agar tidak ikut larut dalam kesedihan orangtua mereka. Jika dibiarkan dalam waktu panjang, akan mengganggu perkembangan jiwa mereka. Trauma, krisis kepercayaan, dan penuh tekanan.
Dalam  kondisi yang demikian, Pendidikan Anak usia Dini (PAUD) sangat diperlukan oleh anak-anak usia prasekolah korban bencana. Alasannya yang terpenting adalah anak-anak harus tetap dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, meskipun situasi dan kondisi orangtua dan lingkungan mereka sangat memprihatinkan. Karena tumbuh kembang anak di usia dini akan sangat mempengaruhi perkembangan di usia dewasanya nanti.
Menyelenggarakan PAUD di daerah bencana  dapat dilakukan dengan  membentuk kelompok-kelompok PAUD di barak-barak pengungsian atau di wilayah daerah yang terkena bencana. Tentu saja penyelenggaraan PAUD ini harus didukung oleh Pemerintah, dan para relawan.  Karena sifatnya darurat, maka tempat kegiatan PAUD bisa dilakukan di tengah lapang atau di bawah pohon yang rindang,  atau di ruang yang agak lapang, sekalipun dengan memanfaatkan alat permainan dan sarana prasaran pendidikan  seadanya. Menu pembelajaran dalam PAUD pun untuk di daerah pengungsian juga harus disesuaikan dan dimodifikasi sesuai kondisi yang ada.
Materi dapat mencakup pengembangan aspek moral dan nilai agama, terutama untuk membina ketabahan anak korban bencana, bersyukur karena selamat, serta menanamkan nilai-nilai moral agar anak selalu berbuat baik dengan orang lain, alam, dan hewan.  Seharusnya dari pemerintah menyediakan seorang psikolog untuk membantu anak-anak tersebut dalam mengatasi trauma dan stress khususnya rasa takut serta goncangan mental sewaktu bencana itu terjadi.
Disamping itu, materi untuk pengembangan aspek fisik  anak tetap diperlukan dengan menyesuaikan tempat dan peralatan yang tersedia, seperti bernyanyi,  menari, berjalan, melompat, dan berlari. Untuk motorik halusnya bisa dengan menggunting, melipat, membuat garis, dan lain sebagainya.
Tidak boleh dilupakan juga materi pengembangan bahasa  anak dan aspek kognitif dengan mendongeng dan bercerita,  kegiatan mengelompokkan benda yang sama dan sejenis, mendiskripsikan warna-warna benda, dan sebagainya. Kemudian juga aspek sosial emosional,  menumbuhkan kerjasama,  kemurahan hati, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empati, sikap ramah, sikap tidak mementingkan diri sendiri.
Dengan menyelengarakan PAUD di daerah bencana, walaupun sifatnya sementara, anak-anak usia dini tidak akan  merasakan kehilangan masa kanak-kanak mereka. Diharapkan kegiatan dan program yang menyenangkan dapat terlaksana dengan baik dan tetap mengacu pada tingkat kesesuaian tumbuh kembang anak di tempat-tempat pengungsian di daerah-daerah  bencana di tanah air. Kepedulian pemerintah dan masyarakat serta relawan sangat dibutuhkan demi mempertahankan dan mengembalikan keceriaan anak-anak sebagai penawar trauma.

 Oleh : Baldwine Honest

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEKUATAN CINTA DI WISUDA PAUD

DENGAN MENGGAMBAR, ANAK DAPAT MENGEKSPRESIKAN DIRINYA