Peran Kader PKK dalam Penanggulangan Masalah Stunting Menuju Kaltim Sehat tahun 2020




BAB I
PENDAHULUAN

Indonesia masih menghadapi permasalahan gizi yang berdampak serius terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM). Salah satu masalah kekurangan gizi yang masih cukup tinggi di Indonesia terutama masalah kerdil  (stunting).
Stunting dapat terjadi sebagai akibat kekurangan gizi terutama pada saat 1000 Hari Pertama Kelahiran (HPK). Pemenuhan gizi dan pelayanan kesehatan pada ibu hamil perlu mendapat perhatian untuk mencegah terjadinya stunting. Stunting akan berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan anak dan status kesehatan pada saat dewasa. Akibat kekurangan gizi pada 1000 HPK bersifat permanen dan sulit untuk diperbaiki.
Penanggulangan Stunting menjadi tanggung jawab kita bersama, tidak hanya Pemerintah tetapi juga setiap keluarga Indonesia, dan masyarakat. Karena stunting dalam jangka panjang berdampak buruk tidak hanya terhadap tumbuh kembang anak tetapi juga terhadap perkembangan emosi yang berakibat pada kerugian ekonomi. Mulai dari pemenuhan gizi yang baik selama 1000 hari pertama kehidupan anak hingga menjaga lingkungan agar tetap bersih dan sehat. 
 Karena penanggulangan stunting adalah tanggung jawab kita bersama, maka Kader PKK yang juga mitra dari Pemerintah yang bisa menjangkau ke daerah-daerah harus berperan aktif, untuk bisa menggerakkan masyarakat dan keluarga mengenai cara meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan.
            Dalam makalah ini, akan dibahas mengenai masalah stunting, dan  peran kader PKK dalam mencegah dan menanggulangi masalah stunting, menuju Kaltim Sehat tahun 2020.


                            



BAB II
PEMBAHASAN

A. STUNTING
     Stunting adalah suatu kondisi dimana tinggi badan seseorang lebih pendek dibanding tinggi badan orang lain yang seusia dan berjenis kelamin yang sama.
     Penyebab utamanya  adalah kurangnya asupan gizi yang optimal, pola asuh dan pola makan yang tidak benar, serta sanitasi yang tidak bersih dan sehat.
    
     Ciri-ciri stunting adalah :
1.      Tanda pubertas terlambat
2.      Performa buruk pada tes perhatian dan memory belajar
3.      Pertumbuhan gigi terlambat.
4.      Pada usia 8 – 10 tahun, anak akan menjadi lebih pendiam, tidak banyak melakukan eye contact.
5.      Pertumbuhan melambat.
6.      Wajah tampak lebih muda dari usianya.
    
Dampak Stunting adalah :
1.       Jangka pendek :
Terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh.
2.      Jangka panjang :
Menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan resiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua Kesemuanya itu akan menurunkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, produktifitas, dan daya saing bangsa.
    


Cara Menangani Stunting :
1.       Intervensi Gizi Spesifik :
Intervensi yang ditujukan kepada ibu hamil dan anak dalam 1.000 hari pertama kehidupan. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan.
Intervensi spesifik bersifat jangka pendek, hasilnya dapat dicatat dalam waktu relatif pendek.
2.        Intervensi Gizi Sensitif :
Intervensi yang ditujukan melalui berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan. Sasarannya adalah masyarakat umum, tidak khusus untuk sasaran 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

Intervensi Gizi Spesifik :
      Merupakan intervensi yang ditujukan kepada anak dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan berkontribusi pada 30% penurunan stunting.
Kerangka kegiatan intervensi gizi spesifik umumnya dilakukan pada sektor kesehatan.
I. Intervensi dengan sasaran Ibu Hamil:
1.      Memberikan makanan tambahan pada ibu hamil untuk mengatasi kekurangan energi dan protein kronis.
2.      Mengatasi kekurangan zat besi dan asam folat.
3.      Mengatasi kekurangan iodium.
4.      Menanggulangi kecacingan pada ibu hamil.
5.      Melindungi ibu hamil dari Malaria.

II. Intervensi dengan sasaran Ibu Menyusui dan Anak Usia 0-6 Bulan:
1.      Mendorong inisiasi menyusui dini (pemberian ASI jolong/colostrum).
2.      Mendorong pemberian ASI Eksklusif.

 III. Intervensi dengan sasaran Ibu Menyusui dan Anak Usia 7-23 bulan:
1.      Mendorong penerusan pemberian ASI hingga usia 23 bulan didampingi oleh pemberian MP-ASI.
2.      Menyediakan obat cacing.
3.      Menyediakan suplementasi zink.
4.      Melakukan fortifikasi zat besi ke dalam makanan.
5.      Memberikan perlindungan terhadap malaria.
6.      Memberikan imunisasi lengkap.
7.      Melakukan pencegahan dan pengobatan diare.

Intervensi Gizi Sensitif
Idealnya dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan diluar sektor kesehatan dan berkontribusi pada 70% Intervensi Stunting.
Sasaran dari intervensi gizi spesifik adalah masyarakat secara umum dan tidak khusus ibu hamil dan balita pada 1.000 Hari PertamaKehidupan (HPK).
1.      Menyediakan dan Memastikan Akses pada Air Bersih.
2.      Menyediakan dan Memastikan Akses pada Sanitasi.
3.      Melakukan Fortifikasi Bahan Pangan.
4.      Menyediakan Akses kepada Layanan Kesehatan dan Keluarga Berencana (KB).
5.      Menyediakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
6.      Menyediakan Jaminan Persalinan Universal (Jampersal).
7.      Memberikan Pendidikan Pengasuhan pada Orang tua.
8.      Memberikan Pendidikan Anak Usia Dini Universal.
9.      Memberikan Pendidikan Gizi Masyarakat.
10.  Memberikan Edukasi Kesehatan Seksual dan Reproduksi, serta Gizi pada Remaja.
11.  Menyediakan Bantuan dan Jaminan Sosial bagi Keluarga Miskin. 12. Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Gizi.

SANITASI UNTUK MENCEGAH STUNTING
Sulitnya akses air bersih dan sanitasi yang buruk, dapat memicu stunting pada anak. Sanitasi Total Berbasis Lingkungan (STBL), dicanangkan pemerintah mengatasi stunting.

Lima pilar Sanitasi Total Berbasis Lingkungan (STBL) :
1.      Mencuci Tangan Menggunakan Sabun
2.      Berhenti Buang Air Besar Sembarangan
3.      Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga
4.      Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
5.      Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga

B.     PERAN KADER PKK DALAM PENANGGULANGAN STUNTING

     Pencegahan stunting dapat dilakukan dengan cara memberdayakan masyarakat melalui keluarga. Peran kader PKK di setiap tingkatan, dimulai dari Kader RT, Kader Kelurahan, Kader Kecamatan, Kader Kota, dan Kader Provinsi, wajib berperan aktif dalam pencegahan stunting, di mana setiap ketua umum sebagai pengarah, untuk bisa menggerakkan masyarakat dan keluarga mengenai cara meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan.
 PKK  memiliki tiga fungsi penting terkait stunting. Di antaranya melakukan  pendataan, penyuluhan, dan membantu pemerintah menangani masalah stunting.
           Yang pertama dilakukan adalah, pelatihan untuk para kader, kemudian bergerak ke masyarakat untuk penyuluhan.  Hal yang paling penting adalah sosialisasi penyuluhan, karena terkadang   masyarakat  masih kekurangan pengetahuan.
                      Setiap Kelompok Kerja (POKJA) dalam struktur Tim Penggerak PKK memiliki peran besar dalam mendukung percepatan penanganan stunting. Keterlibatan antar Pokja menjadi bagian yang sangat krusial untuk saling berkoordinasi dan bersinergi untuk mendapatkan solusi yang tepat dan disepakati bersama, sebagai arah kebijakan khususnya untuk mendukung percepatan penanganan stunting.
                       Masalah stunting ini sendiri menjadi salah satu prioritas Pokja IV program kesehatan dan Pokja III yang bergerak di program makanan bergizi. Namun, Pokja-pokja ini tetap berintervensi dengan Pokja I yang menangani Program Pola asuh anak dan remaja, serta Pokja II program Pendidikan Anak Usia Dini.
     
Fungsi Utama Kader PKK adalah :
1.      PENDATAAN dan PEMETAAN
      Dilakukan oleh semua Pokja, sehingga di dapatkan data dan pemetaan, mengenai data remaja  perempuan, data anak yang berat badannya tidak sesuai usia, data ibu hamil dan menyusui, dan lainnya.
      Termasuk mendapatkan data kondisi lingkungan yang sanitasinya kurang baik.
2.      PENYULUHAN
Materi penyuluhan meliputi Intervensi Gizi Spesifik dan Sensitif.
      Bisa dilakukan saat kegiatan POSYANDU,  saat BKB, di PAUD saat ada kegiatan Parenting, atau bisa langsung di datangi ke keluarga yang jarang datang ke Posyandu.
3.      PENDAMPINGAN.
      Melakukan pendampingan, sehingga mengetahui perkembangan setiap bulan.
4.      PEMANTAUAN, MELAPORKAN dan MEMBANTU RUJUKAN KE PENGAWAS KESEHATAN DAN PETUGAS.
     Apabila ditemukan kasus yang serius, maka kader wajib melaporkan dan membantu membuat rujukan ke pengawas kesehatan, atau dinas yang terkait.









BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Kesimpulan dari makalah ini adalah :
1.      Stunting adalah gangguan pertumbuhan pada anak yang disebabkan oleh kekurangan nutrisi di 1000 Hari Pertama Kelahiran, lingkungan yang tidak bersih dan pola hidup yang tidak sehat. Stunting pada anak dapat menyebabkan gangguan kecerdasan dan kesehatan.
2.      Penanggulangan Stunting menjadi tanggung jawab kita bersama, tidak hanya Pemerintah tetapi juga setiap keluarga Indonesia, dan masyarakat
3.      Cara menangani stunting ada 2, yaitu Intervensi Gizi Spesifik dan Intervensi Gizi Sensitif.
4.      Pencegahan stunting dapat dilakukan dengan cara memberdayakan masyarakat melalui keluarga. Peran kader PKK di setiap tingkatan wajib berperan aktif dalam pencegahan stunting, di mana ketua umum sebagai pengarah, untuk bisa menggerakkan masyarakat dan keluarga mengenai cara meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan.

B.     SARAN
1.      Para kader PKK di kota Balikpapan  harus mau dan mampu bertindak sebagai agen perubahan sehingga dapat memberikan kontribusi nyata terhadap upaya perbaikan gizi, baik intervensi spesifik maupun sensitif. Sehingga bisa menanggulangi masalah sunting menuju Kaltim Sehat Tahun 2020.
2.      Kader PKK harus mau dan mampu berkerja sama dengan semua profesi kesehatan dalam memecahkan masalah kesehatan perseorangan maupun masyarakat
3.      Kader PKK harus berwawasan luas dengan cara aktif belajar baik dari buku, pelatihan dan kegiatan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

 Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Materi Sosialisasi Stunting 16 April 2018

Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi,   Buku Saku Desa dalam Penanganan Stunting, 2017

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Leaflet Stunting


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEKUATAN CINTA DI WISUDA PAUD

DENGAN MENGGAMBAR, ANAK DAPAT MENGEKSPRESIKAN DIRINYA